Can the Subaltern Speak?

women

Nama Kartini, tokoh yang baru saja kita peringati 21 April lalu, kembali terlintas ketika saya membaca halaman-halaman awal buku ‘Breaking Barriers: Portraits of Inspiring Chinese-Indonesian Women’ yang ditulis Aimee Dawis.

‘Kartini was a visionary. Her dream to move Indonesia forward using Western knowledge was revolutionary.’

Istilah ‘Western’ kontan mengingatkan pada kutipan yang saya jadikan judul tulisan ini. Gayatri Spivak, tokoh wanita dari India, menulis kalimat itu dalam sebuah essay yang mengungkapkan bagaimana kalangan minoritas di Dunia Ketiga mengalami tekanan ganda, atau bahkan tekanan lipat tiga.

Tekanan yang pertama yaitu dari segi geografis, sebagai populasi Dunia Ketiga yang dianggap lebih rendah daripada Dunia Pertama. Atau ‘Timur’ yang dianggap lebih rendah dari ‘Barat’. Tekanan selanjutnya bisa dari segi gender (dialami kaum perempuan), atau strata sosial (contohnya kaum budak), atau bahkan keduanya sekaligus (budak perempuan).

Dari kacamata orientalisme/poskolonial, kolonialisme negara barat tidak berhenti pada penjajahan fisik seperti eksploitasi lahan atau kerja paksa, tetapi juga terus berlanjut di tataran ideologis (level pemikiran), misalnya dengan sebutan-sebutan bagi dunia timur yang ‘mistis’, ‘eksotis’, atau istilah serupa lainnya, yang sebetulnya secara tidak langsung juga bisa diartikan ‘bodoh’, ‘memercayai hal-hal yang tidak masuk akal’, atau ‘tidak terpelajar’.

Dari perspektif feminisme, perempuan disebut sebagai kaum subordinat (kaum yang derajatnya dianggap lebih rendah atau dinomorduakan), di bawah kaum pria yang menempati posisi dominan atau nomor satu. Kaum perempuan dianggap tidak perlu menyandang identitas yang berdiri sendiri. Setelah menikah, mereka adalah bagian representasi kaum laki-laki, bahkan tidak lagi menggunakan namanya sendiri, melainkan nama suaminya. Misalnya Nyonya Tomo (tidak pernah sebaliknya, suami menggunakan nama istri misalnya Bapak Yuliani). Itu hanya satu contoh kecil di level ideologis, belum termasuk di dalamnya poligami bahkan KDRT yang dihalalkan atas nama agama.

Seorang budak perempuan dalam tradisi patriarki, yang tinggal di Dunia Ketiga, mengalami bentuk-bentuk represi sedemikian rupa, sehingga ia tidak memiliki jati dirinya sendiri, bahkan dalam menyuarakan tekanan yang dialaminya. Tekanan yang mereka alami justru lebih fasih diartikulasikan oleh feminis barat, menurut bahasa dan pandangan dunia yang ala barat. Artinya tidak terlepas dari poskolonial/orientalisme.

Itulah yang dimaksud Gayatri, yang banyak menggeluti pemikiran feminisme dan poskolonial/orientalisme. Kaum ‘subaltern’ secara sederhana dapat diterjemahkan sebagai kaum minoritas, atau ‘The Other’ (yang lain) menurut konsep dekonstruksi Derrida, atau dalam padanan bahasa Indonesia yang diadaptasi dari istilah Jawa, disebut ‘liyan’. Can the subaltern speak? Atau dengan kata lain, mungkinkah mereka menyuarakan dirinya sendiri?

Istilah gampangnya, kalau pun ada suara, itu disuarakan pihak lain, dan suara itu lebih dalam bentuk suara yang ‘mengasihani’, dari pihak yang lebih superior. Dengan kata lain, subaltern dalam bentuk apa pun tidak pernah menjadi entitas yang ‘setara’.

Kartini dan Emansipasi Perempuan

Ada sejumlah tipikal komentar khas feminis yang diajukan seputar sosok Kartini yang sering disebut tokoh emansipasi.

1. Pengaruh pemikiran barat. Di satu sisi Kartini ingin memajukan kaum perempuan melalui kesempatan pendidikan, ini adalah pemikiran yang dipelajarinya dari barat (sahabat penanya). Dalam hal ini, perempuan Indonesia yang menelan mentah-mentah konsep pemikiran barat tentang perempuan yang ‘lebih maju’, sebenarnya masih ‘terjajah’ dalam level tertentu.

2. Tradisi Jawa dan pakaian tradisional. Sebenarnya semacam kemunduran jika hari Kartini diperingati dengan mengenakan kebaya, termasuk kebaya Jawa. Kebaya Jawa, dengan kain jarik berukuran lebar yang dibebat kencang mengelilingi pinggul hingga membentuk lekukan pinggang, pinggul, dan akhirnya mengerucut di mata kaki, konon dirancang sedemikian rupa untuk menonjolkan kemolekan tubuh perempuan, sekaligus membatasi geraknya dengan ketatnya kain yang tidak memungkinannya untuk mengambil langkah panjang dan cepat, melainkan hampir beringsut dengan langkah yang pendek-pendek dan gerakan pinggul yang meliuk (bisa membayangkan perempuan dalam kebaya Jawa berlari mengejar bis kota, kecuali dengan menyingkapkan kain kebaya itu hingga ke atas lutut? :D)

Politik Orde Baru telah memaknai kebaya sebagai simbol tiga peran perempuan ‘dapur, kasur, sumur’. Untuk itu, Saparinah Sadli menegaskan citra Kartini tidak terletak pada kebayanya, melainkan intelektualitasnya. Mengenakan kebaya tidak sesuai dengan gagasan emansipasi Kartini yang ingin ‘membebaskan’ perempuan untuk memberdayakan diri, keluar dari posisinya dahulu sebagai sekedar ‘atribut’ yang menonjolkan kecantikan fisik.

3. Poligami. Kartini adalah istri keempat Bupati Rembang. Dalam hal ini harus diperjelas figurnya sebagai teladan emansipasi, sementara ia sendiri mengalami subordinasi dalam bentuk poligami.

4. Domestikasi perempuan. Kiranya juga kemunduran jika hari Kartini diperingati dengan demo atau lomba memasak, yang adalah salah satu ciri domestikasi yang membatasi ruang gerak perempuan di balik dinding rumah (hanya seputar dapur dan rumah tangga). Pendidikan tinggi tidak berpengaruh bagi peran perempuan sebagai pengurus dapur dan rumah tangga. Bukankah ibu-ibu yang tidak sekolah bisa melakukannya? Bukankah olimpiade matematika atau kompetisi yang bersifat profesional lebih relevan dengan upaya Kartini membuka jalan bagi perempuan mengenyam pendidikan dan di kemudian hari berkarya sesuai bakat atau potensinya? 😉

Can the subaltern speak? Dengan segala respek dan rasa hormat, Kartini mungkin telah menjadi salah satu tokoh di antara sederetan pejuang-pejuang perempuan Indonesia, yang memancangkan tonggak perubahan bagi kemajuan segenap perempuan Indonesia. Dalam tradisi masyarakat Jawa yang patriarkis di tengah era penjajahan kolonial, Kartini telah menyuarakan satu bentuk kesadaran yang diperlukan bagi perkembangan masyarakat Indonesia, khususnya dalam peran perempuan. Beliau menyuarakan kesadaran itu melalui kacamata pemahaman perempuan Eropa yang menjadi sahabat penanya, karena tidak memiliki pilihan selain tradisi dan situasi politik yang mengekang di sekelilingnya.

Akhir kata, sudut pandang feminis hanyalah salah satu sudut pandang yang dapat kita pelajari. Kita, sebagai perempuan Indonesia, ada baiknya bercermin dan bersikap bijak dalam memaknai hari Kartini.

Pernikahan: Tidak Lebih dari Sekedar Institusi Legal? (Lanjutan)

Judge_hammer

Teman-teman, mari kita lanjutkan perbincangan tempo hari tentang pernikahan.

Barangkali kita cenderung take for granted dan berpikir pernikahan adalah bagian sewajarnya dari fase kehidupan seseorang: lahir, sekolah, bekerja, menikah, memiliki keturunan. Jadi, di satu titik kehidupannya, seseorang sudah semestinya menikah.

Benarkah demikian? Kenyataannya, tidak semua masyarakat memiliki pandangan seperti itu.

Saya pernah membaca pernyataan yang begitu sinis tentang lembaga pernikahan. Sudah lama sekali saya membacanya di sebuah artikel, tetapi pernyataan itu sangat membekas di ingatan saya.

Artikel itu mengutip pandangan tokoh atau kalangan tertentu, yang menyebut pernikahan sebagai:

‘.. lembaga prostitusi yang dilegalkan.’

Bagaimana mungkin? Tentu saja pernikahan tidak dirancang untuk itu! Namun, hal ini memperlihatkan fakta yang tidak bisa dipungkiri bahwa pernikahan memiliki banyak aspek, dan oleh karenanya, juga banyak wajah. Salah satu aspek pernikahan adalah aspek hukum.

Tiap negara punya hukum yang berbeda dalam mengatur pernikahan warga negaranya. Jadi, praktik pernikahan tidak bisa dipukul rata, dan tidak selalu bisa dianggap sesuatu yang ‘sudah semestinya’, atau ‘dari sononya sudah begitu’.

Amerika contohnya, beberapa waktu lalu mengijinkan perkawinan sesama jenis di seluruh negara bagiannya. Perbedaan aturan hukum juga menyebabkan pasangan berbeda keyakinan sulit menikah di Indonesia.

Aspek agama serta tradisi (kebudayaan) masyarakat tertentu juga menentukan pandangan atau sikap seseorang terhadap pernikahan, entah itu sebagai sebuah lembaga, sebagai bagian dari aturan agama, atau sebagai bagian dari fase (alami) kehidupan manusia.

Saya tidak ingin berpanjang lebar secara teori, karena bukan itu tujuan saya menulis posting ini.

Di level individu, saya berempati dengan para sahabat yang berjuang keras mempertahankan pernikahan yang bermasalah. Perceraian sekali pun, meski adakalanya dipilih sebagai solusi, bukan jalan pintas yang mudah, bahkan bisa meninggalkan trauma bagi sahabat-sahabat yang mengalaminya.

Bagi beberapa orang, pernikahan tidak membawa kebahagiaan. Lalu apakah pernikahan tak lebih dari sekedar institusi yang sah secara hukum tetapi banyak disalahgunakan, atau dianggap sia-sia karena menyimpan banyak kemunafikan dan terlalu ideal (mustahil) untuk dipertahankan dari sisi baiknya?

Pernikahan bisa saja pernah dan masih diselewengkan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, dan menimbulkan beban penderitaan bahkan pelanggaran hak asasi manusia. Kekerasan seksual atau bentuk KDRT lain dengan alibi agama, praktik poligami, anak-anak yang tidak punya kesempatan dibesarkan secara wajar oleh sepasang figur yang berlawanan jenis, bagaimana pun adalah sisi gelap yang mestinya tidak memerlukan perdebatan intelektual atau ideologis yang terlalu panjang.

Di setiap waktu yang dihabiskan untuk sebuah perdebatan, ratusan ribu suara tangis bayi pecah di ruang persalinan di seluruh dunia. Bayi-bayi tak bersalah dilahirkan dengan masa depan yang ada di tangan orang tua atau generasi pengasuh mereka. Jutaan orang ditahan di penjara, anak-anak muda terlibat narkoba, dan sedikitnya 200.000 pengguna narkoba meninggal setiap tahunnya. Semuanya dimulai dari apa yang disebut lembaga terkecil masyarakat, yang adalah: ‘KELUARGA‘.

Hidup mungkin menawarkan banyak pilihan, dan bersikap skeptis terhadap pernikahan, atau menganggap kawin-cerai sudah biasa karena sudah membudaya, adalah salah satunya. Akan tetapi, masa depan anak-anak tidak bisa dipisahkan dari peran orang tua yang membesarkan dan mengasuh mereka. Apakah mereka berhasil, merasa aman dan didukung dalam meraih impian masa kecil mereka, atau terjebak dalam lingkungan pergaulan yang salah dan kemudian mengambil pilihan-pilihan hidup yang menjerumuskan, tidak dapat dipisahkan begitu saja dari pengalaman BAGAIMANA dan OLEH SIAPA mereka DIBESARKAN.

Kelangsungan rumah tangga dan bagaimana nilai-nilai di dalam keluarga dipraktikkan berperan sangat besar bagi kelangsungan hidup suatu masyarakat. Apakah mereka dibesarkan figur-figur yang punya integritas, bertanggung jawab, dan tahu memegang komitmen, akan sangat menentukan bagaimana mereka berperan di lingkungannya, dan pada gilirannya bagaimana mereka berperan sebagai anggota masyarakat.

Image courtesy of: http://www.pattenfaithsandford.com/

Pernikahan: Tidak Lebih dari Sekedar Institusi Legal?

Groom Signing Wedding License

Apa yang pertama terlintas di benak ketika mendengar kata ‘pernikahan’?

Tentunya banyak di antara kita telah mengalami kehidupan pernikahan. Sebagian lainnya tengah menikmati masa lajang, dan sebagian lagi mungkin bergumul menantikan pasangan hidup.

Membicarakan pernikahan tidak pernah ada habisnya.

Bagi sebagian orang, pernikahan begitu alami dan telah melalui waktu yang panjang, membentuk sejarah kehidupan yang wajar dengan segala pasang surutnya.

Bagi sebagian yang lain, pernikahan begitu sulit, penuh konflik yang menyakitkan serta meninggalkan banyak ganjalan dan luka hati yang begitu membekas. Tak jarang, perceraian akhirnya dipilih sebagai jalan keluar.

Bagi yang belum menikah dan memandang pernikahan sebagai suatu lembaga, tradisi, atau produk kebudayaan, pernikahan mungkin menjadi wacana yang banyak dikritisi dan memunculkan banyak tanda tanya. Beberapa di antaranya kemudian menolak lembaga perkawinan karena sejumlah alasan.

Di sisi lain, ada pula kalangan yang belum menikah dan ‘mengira’ pernikahan adalah ‘akhir sebuah cerita’ (dongeng) yang (dikhayalkan) pasti ‘happily ever after’.

Saya teringat, di era ketenarannya lebih dari 2 dekade lalu, Bon Jovi dalam albumnya New Jersey pernah mengangkat perihal hidup bersama (tanpa menikah). Lirik lagunya ‘Living in Sin’ menyorot pertanyaan yang muncul di benak anak muda:

Apakah seperti itu kehidupan pernikahan:

Para orang tua yang tiap malam bertengkar, lalu menutup hari dengan memohon ampun pada Tuhan sambil mematikan lampu? Atau mengenakan cincin pernikahan bertatahkan berlian sementara hati mereka membatu; mereka bisa bicara tetapi memilih diam saja, mereka tinggal bersama-sama tetapi kesepian.

Apakah hidup bersama dianggap sebagai ‘hidup dalam dosa’ (living in sin), dan sebuah janji baru dinyatakan sah jika sudah membubuhkan tanda tangan (di surat nikah)? Apakah seseorang membutuhkan pendeta (atau imam) hanya untuk menyatakan bahwa orang yang ia cintai adalah pasangan miliknya?

Demikian kira-kira digambarkan dalam lirik ‘Living in Sin’. Secara tidak langsung, lagu itu mempertanyakan pernikahan yang tidak menjamin kehidupan rukun dan sejahtera, bahkan bisa lebih buruk dibanding pasangan yang saling mencintai dan hidup bersama tanpa menikah.

Di sini saya tidak bermaksud mendukung hidup bersama tanpa menikah. Bon Jovi sendiri adalah musisi rock legendaris yang telah menikah selama 27 tahun, dan tidak seperti kebanyakan musisi rock lainnya, mempertahankan perkawinannya dengan sang istri Dorothea Hurley sampai sekarang dan tidak pernah terlibat drugs. Akan tetapi, di era masa kini, relevansi lembaga pernikahan terhadap kehidupan seseorang semakin banyak menghadapi tantangan.

Bagaimana dengan teman-teman? Adakah yang punya opini, uneg-uneg, atau pengalaman yang ingin dibagikan seputar kehidupan pernikahan? Komentar teman-teman akan disambut dengan senang hati, sambil menunggu kelanjutan artikel ini di posting berikutnya.

Image courtesy of: giantinvitations.com.au

Hadiah Natal yang Terindah

betlehem

Hadiah Natal yang terindah. Mungkin judul ini kurang tepat. Sebab Natal itu sendiri adalah pemberian paling indah dan berharga yang dapat dialami manusia: kelahiranNya di dunia yang mengawali sebuah karya keselamatan, tanda kasihNya bagi setiap orang. Itulah sesungguhnya makna Natal, yang tidak berubah dari tahun ke tahun. Itu juga yang sewajarnya dirayakan setiap hari, tidak hanya di hari Natal: kehidupan yang sudah dibebaskan dari belenggu dosa dan maut.

Natal adalah hadiah. Dan Natal selalu indah.

Tanpa bermaksud mengecilkan makna Natal sebagai bagian dari sebuah karya keselamatan yang besar dan mulia, aku ingin berbagi sukacita khususnya di momen perayaan Natal tahun 2015 ini.

Kenangan akan momen-momen perayaan Natal di masa kecilku menjadikan musim liburan akhir tahun memberikan kesan tersendiri. Lagu-lagu Natal, pohon cemara yang dihias indah tak lupa dengan kelap-kelip lampu warna-warni, selalu mengingatkan aku pada keluarga. Kenangan akan almarhumah ibu yang berulang tahun tepat seminggu sebelum tanggal 25 Desember, ditambah langit yang kerap mendung di musim penghujan, menciptakan kesan sendu dan syahdu. Semenjak kepergian almarhumah ibu kandung, Natal seperti menghadirkan muram di hati. Rasanya ada yang hilang, dan keluargaku tidak lagi seperti dulu, terlebih setelah kepergian ayah.

Di usia 20-an awal, setiap menjelang Natal, aku mengharapkan kejutan dari Tuhan. Barangkali untuk melipur terhilangnya kebersamaan keluarga. Aku tidak tahu apa bentuknya kado itu, tetapi aku terus mengimpikannya dari tahun ke tahun. Entah bagaimana, aku benar-benar menginginkannya, layaknya anak kecil menginginkan sesuatu dan terus merengek pada ayahnya. Namun, untuk beberapa waktu, Natal sepertinya masih sama. Tidak lagi berkesan. Tidak ada kehangatan. Sepertinya, dari tahun ke tahun, Natal semakin biru.

Dekade demi dekade telah berlalu. Banyak hal telah berubah dalam hidupku, juga diriku. Seiring pertambahan usia, hubungan persaudaraan di keluargaku mengalami pendewasaan dan semakin erat. Banyak kenangan manis yang sempat terhilang, kembali dihidupkan. Banyak hal berubah ke arah yang lebih baik dan semakin baik. Bahkan, pernikahanku di tahun Ayin Vav ini (yang juga adalah tahun Yobel), menjadi kejutan manis yang tak pernah ku sangka sebelumnya.

Pernikahan yang semula direncanakan dilangsungkan pada bulan September, karena banyaknya persiapan, diundur ke bulan Desember. Tidak terpikir olehku saat itu, bahwa hari bahagiaku akan berlangsung menjelang liburan akhir tahun yang juga diwarnai suasana Natal. Tidak sempat terpikir olehku, bahwa Natal tahun 2015 ini dapat aku rayakan dengan kehadiran seorang pasangan hidup.

Tahun-tahun sebelumnya telah memberiku suasana Natal yang berkesan dengan kehadiran keluarga dan saudara seiman, dan kini aku diberikan kesempatan untuk membangun rumah tangga atau keluargaku sendiri. Kesempatan untuk menciptakan kehangatan keluarga dan kenangan-kenangan Natal yang baru.

Tidak ada pohon Natal terpasang di tempat tinggal yang baru kami tempati, kesibukan bekerja juga tidak mengijinkan hari libur untuk merayakan Natal secara istimewa. Namun, Natal adalah menghayati kelahiran Yesus di palungan hati kita. Kandang Betlehem tidaklah berhiaskan kelap-kelip lampu Natal atau jamuan ayam kalkun, tetapi yang terpenting Ia ada bersama kita, di dalam hati kita.

Judul yang tertera di atas memang bukanlah judul yang tepat. Tidak ada kado Natal yang lebih atau kurang indah. Sebab Natal adalah hadiah, dan Natal selalu indah.

Selamat Natal bagi segenap yang merayakan. Immanuel. Damai Kristus menyertai kita semua. Bagi yang tidak merayakan, have a wonderful holiday 🙂

Originally posted on FB

Image courtesy of: www.rwfonline.org

Semua yang manis dan sedap didengar ..

not_sugarcoat

Barangkali ada di antara teman-teman yang pernah berpikir, kehidupan indah dan manis hanya milik orang-orang tertentu. Kebanyakan dari kita, sepertinya harus melewati tantangan dan kesulitan dari waktu ke waktu.

Ada peristiwa yang membuat kita susah atau sedih. Ada hal-hal yang tidak bisa kita dapatkan, tidak peduli seberapa keras kita berjuang memperolehnya. Ada kegagalan yang membuat kita berkecil hati. Ada usaha-usaha yang membentur tembok penghalang, bahkan di dalam hubungan dengan orang terdekat yang begitu kita sayangi .. ;'(

Kita berharap, suatu saat keadaan berubah dan berbalik seperti yang kita inginkan. Namun, hal itu tidak kunjung datang, sampai suatu ketika, kita menyadari bahwa, satu-satunya yang bisa kita minta dalam doa, hanyalah hati yang rela untuk ‘melepaskan‘. Hati yang ikhlas untuk ‘menerima‘ kenyataan yang tidak sesuai harapan. Hati yang bersedia ‘memaafkan‘ diri sendiri dan orang lain. Juga ‘memaafkan’ situasi-situasi yang pernah begitu membebani atau melukai perasaan kita.

Teman-teman yang pernah melalui masa sulit, tentu memahami tidak semua masalah bisa selesai semudah atau secepat yang kita mau. Ada banyak faktor di luar kendali kita. Ada hal-hal yang tidak bisa kita ubah. Pada akhirnya, diri kitalah yang ditantang untuk berubah. Untuk lebih sabar, lebih bijaksana, dan lebih realistis dengan ekspektasi-ekspektasi kita. Ini sama sekali tidak mudah. Mengapa? Karena perubahan seringkali menyakitkan.

Kita harus akui, hidup tidak selamanya mulus, tetapi itu bukan akhir segalanya, karena segala sesuatu hanya sementara. Penderitaan tidak seterusnya, begitu juga ketenteraman hidup, kadang dihadapkan pada ujian atau tantangan.

Segala sesuatu akan indah pada waktunya. Yang pernah mengalaminya, menyadari bahwa ini bukan ungkapan klise untuk menghibur hati belaka.

Segala yang indah dan baik dalam hidup ini, menjadi begitu bernilai dan berarti, justru ketika kita telah melihat atau mengalami kehidupan dari sisi lainnya.

Jadi, “.. semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu ..

Itulah quote yang menginspirasi Words Candy. Kita hidup di tengah-tengah berbagai masalah dan kemerosotan hidup, dan kita perlu berpegang teguh pada pengharapan sekaligus keyakinan akan kehidupan yang lebih baik.

Jika satu-satunya yang kita miliki hanyalah setitik kecil harapan, biarlah ia menjadi nyala api lilin kecil yang setia menuntun perjalanan kita ke arah yang lebih baik.

Words Candy ingin berbagi dan menemani teman-teman dalam perjalanan itu. Walking together, we shall find the sweetness and beauty of this life .. 🙂

Salam hangat.