Ada apa dengan warna merah?

Saya baru berkunjung ke blog seorang adik kelas di UPH dulu. Dia seorang desainer yang sangat berbakat. Tulisannya bagus dan setahu saya dia juga suka melukis. Dari link-link di blog-nya saya mengunjungi beberapa situs dan blog lain dan melihat beberapa referensi visual yang berhubungan dengan seni.

Saya merasa selalu ada sesuatu dengan warna merah. Saya sering menggunakan frase itu (‘warna merah’) dalam tulisan-tulisan yang dulu. Namun, kini saya tidak begitu menyukainya; saya masih menggunakannya sesekali dalam tulisan, tetapi saya tidak begitu suka melihat gambar, lukisan, atau ilustrasi yang menorehkan warna merah dalam sapuan atau guratan yang menyerupai genangan, atau seperti tumpahan cat air yang berbayang. Entah kenapa, ‘style‘ ini menjadi semacam tren. Biasanya dalam ilustrasi yang cenderung ‘suram’, meski terlihat artistik. Contohnya seperti ini:

Setelah cukup lama menyukai karya-karya yang ‘berbobot’ (sekarang istilah itu sedikit terkesan arogan), atau karya yang kaya dari sudut intelektual juga estetika, yang tak jarang justru cenderung ‘muram’, sekarang saya lebih menyukai ‘style‘ yang menghadirkan kesan cerah, ceria, riang, optimis, atau lucu. Jadi saya menyukai proyek-proyek pekerjaan yang berhubungan dengan anak-anak, apalagi ilustrator dalam tim di tempat saya bekerja memang berbakat di situ.

Okay, tentu saja dua contoh ilustrasi di atas tidak bisa dibandingkan karena memiliki tema dan konteks penggunaan yang sangat berbeda. Namun, sekedar menggambarkan ‘taste‘ atau selera visual yang sekarang, seperti itulah kira-kira 🙂

Advertisements

Idealis vs berorientasi pasar

Dulu saya pikir karya-karya ‘idealis’ lebih bernilai dibanding karya-karya komersil, misalnya novel sastra lebih bernilai dibanding novel populer, film festival lebih bernilai dari film Hollywood, dst.

Seiring waktu dan proses pembelajaran, kini saya justru berpikir sebaliknya. Secara estetika, karya-karya ‘idealis’ mungkin lebih tinggi nilainya dibanding karya populer atau komersil. Namun, nyatanya lebih sedikit orang yang bisa memahami atau menikmati karya-karya itu.

Kadang saya dapat merasakan ‘ego’ penulis yang merayakan idealisme pribadi dengan menjadikan karyanya semacam display untuk ‘memamerkan’ kapasitas sekaligus selera intelektualnya. Ada juga penulis yang menjadikan karyanya sebagai saluran kegelisahan atau kecenderungan neurotiknya. Adakalanya kegelisahan yang berkaitan dengan keprihatinan akan ketimpangan (sosial) yang memerlukan solusi, adakalanya juga kegelisahan yang abstrak, semacam upaya berdamai dengan kejanggalan-kejanggalan hidup yang tidak selamanya bisa menemukan penyelesaian.

Dulu saya cukup menyukai karya-karya seperti itu. Membaca karya semacam itu membuat saya merasa tidak sendirian dengan pikiran atau perasaan yang mungkin hanya dialami segelintir orang. Kata-kata di dalamnya seperti mengalir dari lubuk hati saya yang terdalam; ada sesuatu dari dalam diri saya yang sungguh-sungguh terwakili saat membaca karya itu. Ada sisi diri saya yang tidak pernah mendapat ‘tempat’ di dunia orang kebanyakan, akan ‘terpancing’ muncul, sekedar untuk di-recognize bahwa ia ada. Kadang ini membuat saya lega. Atau sebaliknya, membuat sesuatu dalam diri saya bergejolak dan mendatangkan inspirasi-inspirasi baru.

Namun, perjalanan hidup saya beberapa tahun terakhir secara bertahap telah ‘menggeser’ selera akan karya kreatif (khususnya dan terutama berupa bacaan dan film). Pergeseran ini juga membuat saya berpikir ulang tentang proyek-proyek pribadi yang terhenti pengerjaannya.

Berbagai pertanyaan muncul tentang siapa yang akan membaca tulisan saya nanti. Apakah saya harus menyesuaikan tulisan saya dengan selera dan preferensi pembaca? Mana yang harus saya prioritaskan? Jika saya ingin menjangkau lebih banyak pembaca, semakin banyak ‘penyesuaian’ yang harus dibuat. Saya mungkin harus menghindari metafora-metafora yang terlalu ‘dalam’. Sebab, meskipun bagi saya metafora-metafora itu sangat mewakili apa yang ingin disampaikan, tidak semua orang bisa menangkap maksudnya. Saya harus mengesampingkan pakem-pakem estetik yang sempat saya kenal lewat kuliah sastra, mengesampingkan selera dan preferensi pribadi dalam pemilihan kata. Bahkan, saya harus berusaha ‘keras’ untuk mengolah bahasa sehingga mudah dimengerti tanpa harus mengurangi nilai dari pesan-pesan yang ingin disampaikan.

Adakalanya cara penyampaian yang sederhana, tetapi didukung kekuatan cerita dan elemen pendukungnya, juga bisa menyentuh. Seperti quote-quote dari film Kungfu Panda yang sebetulnya klise -bahkan mungkin hambar jika kita dengar di sebuah seminar motivasi- menjadi begitu menggugah ketika dilontarkan dalam film itu.

Ada beberapa film Hollywood yang sangat ‘berhasil’ menyampaikan pesan-pesan yang worth contemplating lewat kemasan yang ringan, menarik, sekaligus menghibur. Dan saya pikir film-film itu lebih ‘bersahabat’, bisa dinikmati, juga bermanfaat bagi lebih banyak orang ketimbang film-film festival yang abstrak, gelap, dan menggelisahkan, sekalipun dikemas sangat artistik serta berangkat dari keprihatinan yang jujur tentang ironi-ironi di kehidupan nyata.

Saya tidak bermaksud underestimate film-film festival (‘nyeni’) atau bacaan-bacaan abstrak/sureal. Ini lebih merupakan keinginan pribadi untuk berkomunikasi dengan lebih banyak orang, walau saya tidak tahu apakah akan berhasil membuat penyampaian yang lebih mudah dicerna tapi tetap menarik. Setidaknya, saya berusaha. Bukan demi memenuhi selera pasar dan mengorbankan ‘idealisme’, tetapi justru karena ‘idealisme’ saya saat ini adalah berbicara dengan lebih banyak orang dan bukan sekedar melampiaskan neurotisisme pribadi tanpa memperhatikan lawan bicara.

*Image courtesy of http://favim.com