Dari perhentian ke perhentian

Bening cyan dan magenta yang tidak tercemar riak itu masih tersimpan dalam ingatanku, ketika bentang langit dan dalamnya lautan melebur dalam horizon. Aku mencarimu di lembut warna pastel cakrawala kepulauan Seribu. Aku mencarimu dalam jejak nyanyian ketika kuliihat cahaya pada wajah-wajah sempurna. Sesosok ibu. Sesosok ayah. Sesosok angan. Sesosok kasih. Sesosok buram ingatan yang tertempel pada kepingan puzzle. Seperti tempat untuk pulang. Tempat untuk istirahat. Tempat untuk jeda-jeda perjalanan panjang dalam tuntunan pelita yang terjanji.

Aku mencarimu di sudut-sudut remang kota Firenze, menyusur jejak percakapan tentang aku, tentang kita, tentang orang-orang yang kita sayangi. Manusia-manusia yang bertambah tua. Lesung pipit, kerut wajah, dan keabadian. Kelebat yang terlepas saat kita mencoba untuk merengkuhnya. Jari-jari tangan yang melukis hari tanpa sandaran. Matahari. Bulan. Bintang. Dan pundak-pundak langit yang menerimamu apa adanya. Yang di hadapannya kamu bisa tertawa atau menangis tanpa mengatakan apa-apa.

Kita berjalan dari perhentian ke perhentian. Mengamati kontras warna objek melembut dalam gradasi halus tentang kemarin dan hari ini. Dalam dialog-dialog yang sunyi dengan jingga senja yang hampir tidak pernah kelihatan. Dalam pudar bintik-bintik sinar lampu yang menganak sungai di ruas-ruas jalan bebas hambatan. Saat kegelapan malam merangkak ke penghujung hari.

Kita berbicara tentang kepingan-kepingan masa lalu dan menemukan cermin-cermin retak pada perjumpaan yang janggal. Sesuatu yang sudah kita bayarkan harganya untuk menebus bodoh dan alpa sambil mengulang rima-rima tentang apa artinya kasih. Tentang burung pipit yang tidak menanam. Tentang alfa dan omega. Dan kita terus berbicara tentang kenangan sambil menyapukan warna-warna lembut hingga meluap melampaui pinggir kanvas. Tumpah ke atas meja.

Warna-warna yang memudar dalam berkas-berkas cahaya, suara-suara yang melembut dalam resonansi nyanyian magis, bunyi detak jantung yang ditenangkan lagu nina bobo setelah ucapan selamat malam, selamat tidur.

Pelan-pelan kita belajar meredakan erangan sambil menatap nyala api lilin kecil yang digoyang-goyang celah udara. Memetik alunan solmisasi dalam hening yang meruang. Pada jendela waktu. Pada pekatnya malam. Pada lirihnya bisikan lembut yang agung.

* Image: courtesy of http://www.bbc.co.uk

Advertisements

Memasak Bersama

Benar-benar hari yang panjang Sabtu kemarin itu. Saya bersama kakak yang tinggal di Bandung janjian untuk berkumpul bersama sepupu dan Tante untuk melihat Tante mendemonstrasikan cara memasak beberapa menu berikut:

1. Cream soup

2. Sup merah

3. Makaroni schotel

4. Nasi goreng

5. Rolade

6. Chicken kiev

7. Mayones (tapi 3 kali dicoba gagal karena pecah >.<)

Berhubung kamera masih pas-pasan jadi belum bisa ambil foto bagus proses dan hasil masakan kemarin. Jadi dipersori kalau foto-foto ini ambil dari hasil google yaa.. Tapi kira-kira seperti ini hasilnya kemarin itu.

Rolade versi meatball karena tidak ada cetakan dan dibentuknya bulat-bulat.

Chicken kiev, kemarin isinya hanya mentega (butter) saja belum menggunakan campuran garlic dan peterseli.

Pameran Lagu Baru

Setelah hampir seminggu ruangan bawah dirapikan dan dua hari terakhir kemarin ‘disulap’ jadi ruang pamer dengan tirai hitam di lorong masuk dan panel-panel yang juga berwarna hitam, akhirnya hari ini pameran dibuka. Pameran apa gerangan? Tak disangka-sangka ternyata pameran foto-foto yang diambil dari lokasi program Indonesia Mengajar.

Pameran yang sangat menyentuh hati, mengingat hasil kerja keras dan pengorbanan peserta yang rela selama 1 tahun meninggalkan pekerjaannya untuk mengajar anak-anak di daerah yang tidak terjangkau kebudayaan kota besar.

Sayangnya tadi ada deadline yang harus diselesaikan sehingga saya tidak sempat menonton film dokumentasi Indonesia Mengajar yang diputar siang ini. Beberapa teman kantor yang menonton dibuat menangis karena haru.

Terima kasih, Tuhan, untuk senantiasa menghadirkan inspirasi positif dan mencerahkan di sekitar. Kemarin saya bersama rekan-rekan kerja juga menghadiri seminar Kenya Hara, desainer Muji, di JCC.

Sekarang saya harus mengisi time sheet, ritual di akhir hari Jumat. Sampai jumpa minggu depan 🙂 Have a great weekend my friends!