Jingga III

stars2

Cahaya itu tertambat pada jingga. Seperti cinta pada genggaman tangan. Atau lambaian di stasiun-stasiun perhentian. Pada dekapan waktu. Pada semburat fana keajaiban retina. Nyata. Untuk seketika.

Apa yang dapat kukatakan ketika hening meruang dalam sejenis kebisingan khas yang sangat familiar. Baur cakap-cakap, dentum irama musik yang jauh, dan sedikit rasa pekak di telinga dalam ruangan tertutup berpendingin. Ketidaknyamanan yang aku tolerir untuk beberapa alasan. Sebab hidup itu pilihan, tetapi tidak semua pilihan menyenangkan. Dan adakalanya, lebih baik memilih untuk merasa senang. Dan menikmati sekeliling dalam gelombang-gelombang yang tidak dibatasi ruang dan waktu.

Hidup tidak pernah sempurna. Dan tidak mengijinkan pilihan-pilihan yang sempurna selain merengkuhnya erat-erat ketika kita tahu hidup tidak selamanya. Dan seperti penderitaan tidak permanen, kebahagiaan juga tidak. Hari-hari perayaan. Juga hari-hari berkabung. Kebersamaan. Keberhasilan. Perpisahan. Dan sakit-penyakit. Semuanya penting tetapi bukan paling penting. Begitu berharga tetapi juga fana. Dapatkah aku menukarnya dengan kesia-siaan yang tidak ada gunanya atau menganggapnya seperti angin lalu.

Tetapi di sana ada cahaya. Di sepanjang sunyi, celoteh-celoteh, juga kebisingan khas yang familiar. Di keterpisahan jarak. Di kedalaman-kedalaman yang tidak terselami keseharian yang adakalanya dangkal dan sambil lalu. Atau sejenis kepedihan yang belum pulih dan disembunyikan di balik gelak tawa. Gabungan angan dan percaya bahwa mungkin keindahan hidup ada di sana (kepedihan itu).

Di sana ada cahaya. Di jalan kembali. Pada nyanyian magis dan terang yang hangat. Pada riak keperakan cahaya bulan pada gelora laut yang tidak lagi jingga keemasan. Ia tetap ada di sana. Pada semburat-semburat fana pergantian musim dan cuaca. Pada jengkal yang tidak sama ketika kau ukur seberapa dalam punggung kakimu terendam di bawah tumpukan pasir yang terbawa ombak. Dan apakah kalender masih menandai bilangan hari ketika rasi-rasi bintang tergambar di malam yang cerah, walau untuk sesaat kamu bersedih, ketika jingga keemasan itu sepertinya hanya sebentar saja.

Jakarta, 15 Agustus 2014

(originally posted on FB)

Advertisements

Jingga II

Sunset

Cahaya itu tertambat pada jingga. Pernahkah kau melihat jingga keemasan berpendaran di atas riak samudera? Ketika matahari sebentar kemudian terbenam di batas horison. Langit bersemburat warna ungu dan biru gemilang, sebelum dikudeta kegelapan malam yang datangnya buru-buru.

Waktu begitu singkat. Tetapi cahaya itu merayap pelan-pelan dan timbul tenggelam dalam kesetiaan. Di sepanjang horison yang merentang tanpa batas. Mengguratkan cyan kadang-kadang, ketika nyalanya padam.

Aku melihat pantulannya di ujung-ujung kusen alumunium suatu hari, ketika aku terpekur di sisi jendela dan melepaskan teriakan kepada warna abu-abu di balik kaca. Dan teriakan itu tidak kembali.

Perlahan-lahan aku melepaskan warna seperti memilah film separasi. Aku membiarkan buram berkelebat dan bentuk-bentuk alfabet meremang kabur. Untuk beberapa detik, segala sesuatu berhamburan. Atau mungkin menit, atau jam. Atau seberapa lama pun waktu yang diperlukan, memetik bening getaran seutas demi seutas dengan nada yang lembut dan amat pelan, seperti alunan nina bobo dalam bisikan merdu yang hangat. Untuk seketika, ruangan seperti kedap resonansi. Hanya merdu itu yang kudengar. Dan aku melihat teriakan itu menitik dalam serpihan halus. Seperti debu emas beterbangan.

Ia ada di sana. Ia. Dan cahaya itu. Pada jingga. Dan pada waktu.

Jakarta, 14 Agustus 2014
(originally posted on FB)

Jingga

road2

Cahaya itu tertambat pada jingga. Sejuk semilir angin menerpa wajah di udara bebas yang hanya sedikit tercemar polusi. Detak waktu membelah jalan raya dalam kecepatan rendah, menyediakan lapang sedalam helaan napas. Paru-paruku mengembang oleh rasa penuh yang nyaman. Dan pandanganku menikmati lapis-lapis tipis corak awan di sepertiga kanvas langit. Sebuah senja dengan jingga yang sempurna.

Jingga di perbatasan-perbatasan hari yang menjanjikan kenangan. Jingga pada warna kausnya ketika segelas MILO dingin tumpah di atas meja. Jingga yang menuntun terik tengah hari pada ambang redup langit menjelang malam. Sabar menyisip di antara minggu, bulan, hingga tiba-tiba dekade. Keindahan yang sama. Jingga yang sempurna.

Aku melihat cahaya pada magenta. Dengan sedikit sapuan warna kelam yang tidak meninggalkan magenta sendirian.

Jakarta, 13 Agustus 2014

(originally posted on FB)