Pernikahan: Tidak Lebih dari Sekedar Institusi Legal? (Lanjutan)

Judge_hammer

Teman-teman, mari kita lanjutkan perbincangan tempo hari tentang pernikahan.

Barangkali kita cenderung take for granted dan berpikir pernikahan adalah bagian sewajarnya dari fase kehidupan seseorang: lahir, sekolah, bekerja, menikah, memiliki keturunan. Jadi, di satu titik kehidupannya, seseorang sudah semestinya menikah.

Benarkah demikian? Kenyataannya, tidak semua masyarakat memiliki pandangan seperti itu.

Saya pernah membaca pernyataan yang begitu sinis tentang lembaga pernikahan. Sudah lama sekali saya membacanya di sebuah artikel, tetapi pernyataan itu sangat membekas di ingatan saya.

Artikel itu mengutip pandangan tokoh atau kalangan tertentu, yang menyebut pernikahan sebagai:

‘.. lembaga prostitusi yang dilegalkan.’

Bagaimana mungkin? Tentu saja pernikahan tidak dirancang untuk itu! Namun, hal ini memperlihatkan fakta yang tidak bisa dipungkiri bahwa pernikahan memiliki banyak aspek, dan oleh karenanya, juga banyak wajah. Salah satu aspek pernikahan adalah aspek hukum.

Tiap negara punya hukum yang berbeda dalam mengatur pernikahan warga negaranya. Jadi, praktik pernikahan tidak bisa dipukul rata, dan tidak selalu bisa dianggap sesuatu yang ‘sudah semestinya’, atau ‘dari sononya sudah begitu’.

Amerika contohnya, beberapa waktu lalu mengijinkan perkawinan sesama jenis di seluruh negara bagiannya. Perbedaan aturan hukum juga menyebabkan pasangan berbeda keyakinan sulit menikah di Indonesia.

Aspek agama serta tradisi (kebudayaan) masyarakat tertentu juga menentukan pandangan atau sikap seseorang terhadap pernikahan, entah itu sebagai sebuah lembaga, sebagai bagian dari aturan agama, atau sebagai bagian dari fase (alami) kehidupan manusia.

Saya tidak ingin berpanjang lebar secara teori, karena bukan itu tujuan saya menulis posting ini.

Di level individu, saya berempati dengan para sahabat yang berjuang keras mempertahankan pernikahan yang bermasalah. Perceraian sekali pun, meski adakalanya dipilih sebagai solusi, bukan jalan pintas yang mudah, bahkan bisa meninggalkan trauma bagi sahabat-sahabat yang mengalaminya.

Bagi beberapa orang, pernikahan tidak membawa kebahagiaan. Lalu apakah pernikahan tak lebih dari sekedar institusi yang sah secara hukum tetapi banyak disalahgunakan, atau dianggap sia-sia karena menyimpan banyak kemunafikan dan terlalu ideal (mustahil) untuk dipertahankan dari sisi baiknya?

Pernikahan bisa saja pernah dan masih diselewengkan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, dan menimbulkan beban penderitaan bahkan pelanggaran hak asasi manusia. Kekerasan seksual atau bentuk KDRT lain dengan alibi agama, praktik poligami, anak-anak yang tidak punya kesempatan dibesarkan secara wajar oleh sepasang figur yang berlawanan jenis, bagaimana pun adalah sisi gelap yang mestinya tidak memerlukan perdebatan intelektual atau ideologis yang terlalu panjang.

Di setiap waktu yang dihabiskan untuk sebuah perdebatan, ratusan ribu suara tangis bayi pecah di ruang persalinan di seluruh dunia. Bayi-bayi tak bersalah dilahirkan dengan masa depan yang ada di tangan orang tua atau generasi pengasuh mereka. Jutaan orang ditahan di penjara, anak-anak muda terlibat narkoba, dan sedikitnya 200.000 pengguna narkoba meninggal setiap tahunnya. Semuanya dimulai dari apa yang disebut lembaga terkecil masyarakat, yang adalah: ‘KELUARGA‘.

Hidup mungkin menawarkan banyak pilihan, dan bersikap skeptis terhadap pernikahan, atau menganggap kawin-cerai sudah biasa karena sudah membudaya, adalah salah satunya. Akan tetapi, masa depan anak-anak tidak bisa dipisahkan dari peran orang tua yang membesarkan dan mengasuh mereka. Apakah mereka berhasil, merasa aman dan didukung dalam meraih impian masa kecil mereka, atau terjebak dalam lingkungan pergaulan yang salah dan kemudian mengambil pilihan-pilihan hidup yang menjerumuskan, tidak dapat dipisahkan begitu saja dari pengalaman BAGAIMANA dan OLEH SIAPA mereka DIBESARKAN.

Kelangsungan rumah tangga dan bagaimana nilai-nilai di dalam keluarga dipraktikkan berperan sangat besar bagi kelangsungan hidup suatu masyarakat. Apakah mereka dibesarkan figur-figur yang punya integritas, bertanggung jawab, dan tahu memegang komitmen, akan sangat menentukan bagaimana mereka berperan di lingkungannya, dan pada gilirannya bagaimana mereka berperan sebagai anggota masyarakat.

Image courtesy of: http://www.pattenfaithsandford.com/

Advertisements

Pernikahan: Tidak Lebih dari Sekedar Institusi Legal?

Groom Signing Wedding License

Apa yang pertama terlintas di benak ketika mendengar kata ‘pernikahan’?

Tentunya banyak di antara kita telah mengalami kehidupan pernikahan. Sebagian lainnya tengah menikmati masa lajang, dan sebagian lagi mungkin bergumul menantikan pasangan hidup.

Membicarakan pernikahan tidak pernah ada habisnya.

Bagi sebagian orang, pernikahan begitu alami dan telah melalui waktu yang panjang, membentuk sejarah kehidupan yang wajar dengan segala pasang surutnya.

Bagi sebagian yang lain, pernikahan begitu sulit, penuh konflik yang menyakitkan serta meninggalkan banyak ganjalan dan luka hati yang begitu membekas. Tak jarang, perceraian akhirnya dipilih sebagai jalan keluar.

Bagi yang belum menikah dan memandang pernikahan sebagai suatu lembaga, tradisi, atau produk kebudayaan, pernikahan mungkin menjadi wacana yang banyak dikritisi dan memunculkan banyak tanda tanya. Beberapa di antaranya kemudian menolak lembaga perkawinan karena sejumlah alasan.

Di sisi lain, ada pula kalangan yang belum menikah dan ‘mengira’ pernikahan adalah ‘akhir sebuah cerita’ (dongeng) yang (dikhayalkan) pasti ‘happily ever after’.

Saya teringat, di era ketenarannya lebih dari 2 dekade lalu, Bon Jovi dalam albumnya New Jersey pernah mengangkat perihal hidup bersama (tanpa menikah). Lirik lagunya ‘Living in Sin’ menyorot pertanyaan yang muncul di benak anak muda:

Apakah seperti itu kehidupan pernikahan:

Para orang tua yang tiap malam bertengkar, lalu menutup hari dengan memohon ampun pada Tuhan sambil mematikan lampu? Atau mengenakan cincin pernikahan bertatahkan berlian sementara hati mereka membatu; mereka bisa bicara tetapi memilih diam saja, mereka tinggal bersama-sama tetapi kesepian.

Apakah hidup bersama dianggap sebagai ‘hidup dalam dosa’ (living in sin), dan sebuah janji baru dinyatakan sah jika sudah membubuhkan tanda tangan (di surat nikah)? Apakah seseorang membutuhkan pendeta (atau imam) hanya untuk menyatakan bahwa orang yang ia cintai adalah pasangan miliknya?

Demikian kira-kira digambarkan dalam lirik ‘Living in Sin’. Secara tidak langsung, lagu itu mempertanyakan pernikahan yang tidak menjamin kehidupan rukun dan sejahtera, bahkan bisa lebih buruk dibanding pasangan yang saling mencintai dan hidup bersama tanpa menikah.

Di sini saya tidak bermaksud mendukung hidup bersama tanpa menikah. Bon Jovi sendiri adalah musisi rock legendaris yang telah menikah selama 27 tahun, dan tidak seperti kebanyakan musisi rock lainnya, mempertahankan perkawinannya dengan sang istri Dorothea Hurley sampai sekarang dan tidak pernah terlibat drugs. Akan tetapi, di era masa kini, relevansi lembaga pernikahan terhadap kehidupan seseorang semakin banyak menghadapi tantangan.

Bagaimana dengan teman-teman? Adakah yang punya opini, uneg-uneg, atau pengalaman yang ingin dibagikan seputar kehidupan pernikahan? Komentar teman-teman akan disambut dengan senang hati, sambil menunggu kelanjutan artikel ini di posting berikutnya.

Image courtesy of: giantinvitations.com.au