Hadiah Natal yang Terindah

betlehem

Hadiah Natal yang terindah. Mungkin judul ini kurang tepat. Sebab Natal itu sendiri adalah pemberian paling indah dan berharga yang dapat dialami manusia: kelahiranNya di dunia yang mengawali sebuah karya keselamatan, tanda kasihNya bagi setiap orang. Itulah sesungguhnya makna Natal, yang tidak berubah dari tahun ke tahun. Itu juga yang sewajarnya dirayakan setiap hari, tidak hanya di hari Natal: kehidupan yang sudah dibebaskan dari belenggu dosa dan maut.

Natal adalah hadiah. Dan Natal selalu indah.

Tanpa bermaksud mengecilkan makna Natal sebagai bagian dari sebuah karya keselamatan yang besar dan mulia, aku ingin berbagi sukacita khususnya di momen perayaan Natal tahun 2015 ini.

Kenangan akan momen-momen perayaan Natal di masa kecilku menjadikan musim liburan akhir tahun memberikan kesan tersendiri. Lagu-lagu Natal, pohon cemara yang dihias indah tak lupa dengan kelap-kelip lampu warna-warni, selalu mengingatkan aku pada keluarga. Kenangan akan almarhumah ibu yang berulang tahun tepat seminggu sebelum tanggal 25 Desember, ditambah langit yang kerap mendung di musim penghujan, menciptakan kesan sendu dan syahdu. Semenjak kepergian almarhumah ibu kandung, Natal seperti menghadirkan muram di hati. Rasanya ada yang hilang, dan keluargaku tidak lagi seperti dulu, terlebih setelah kepergian ayah.

Di usia 20-an awal, setiap menjelang Natal, aku mengharapkan kejutan dari Tuhan. Barangkali untuk melipur terhilangnya kebersamaan keluarga. Aku tidak tahu apa bentuknya kado itu, tetapi aku terus mengimpikannya dari tahun ke tahun. Entah bagaimana, aku benar-benar menginginkannya, layaknya anak kecil menginginkan sesuatu dan terus merengek pada ayahnya. Namun, untuk beberapa waktu, Natal sepertinya masih sama. Tidak lagi berkesan. Tidak ada kehangatan. Sepertinya, dari tahun ke tahun, Natal semakin biru.

Dekade demi dekade telah berlalu. Banyak hal telah berubah dalam hidupku, juga diriku. Seiring pertambahan usia, hubungan persaudaraan di keluargaku mengalami pendewasaan dan semakin erat. Banyak kenangan manis yang sempat terhilang, kembali dihidupkan. Banyak hal berubah ke arah yang lebih baik dan semakin baik. Bahkan, pernikahanku di tahun Ayin Vav ini (yang juga adalah tahun Yobel), menjadi kejutan manis yang tak pernah ku sangka sebelumnya.

Pernikahan yang semula direncanakan dilangsungkan pada bulan September, karena banyaknya persiapan, diundur ke bulan Desember. Tidak terpikir olehku saat itu, bahwa hari bahagiaku akan berlangsung menjelang liburan akhir tahun yang juga diwarnai suasana Natal. Tidak sempat terpikir olehku, bahwa Natal tahun 2015 ini dapat aku rayakan dengan kehadiran seorang pasangan hidup.

Tahun-tahun sebelumnya telah memberiku suasana Natal yang berkesan dengan kehadiran keluarga dan saudara seiman, dan kini aku diberikan kesempatan untuk membangun rumah tangga atau keluargaku sendiri. Kesempatan untuk menciptakan kehangatan keluarga dan kenangan-kenangan Natal yang baru.

Tidak ada pohon Natal terpasang di tempat tinggal yang baru kami tempati, kesibukan bekerja juga tidak mengijinkan hari libur untuk merayakan Natal secara istimewa. Namun, Natal adalah menghayati kelahiran Yesus di palungan hati kita. Kandang Betlehem tidaklah berhiaskan kelap-kelip lampu Natal atau jamuan ayam kalkun, tetapi yang terpenting Ia ada bersama kita, di dalam hati kita.

Judul yang tertera di atas memang bukanlah judul yang tepat. Tidak ada kado Natal yang lebih atau kurang indah. Sebab Natal adalah hadiah, dan Natal selalu indah.

Selamat Natal bagi segenap yang merayakan. Immanuel. Damai Kristus menyertai kita semua. Bagi yang tidak merayakan, have a wonderful holiday ūüôā

Originally posted on FB

Image courtesy of: www.rwfonline.org

Advertisements

Mengimani yang tidak kelihatan

girl_on_a_bridge

Tetapi seperti ada tertulis: “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.”

~ 1 Korintus 2:9 ~

Saya pernah baca kutipan yang kurang lebih bunyinya: iman sejati berdiri di atas keragu-raguan. Hmm.. pernyataan yang masuk akal, bukan? Iman itu memercayai sesuatu yang tidak kelihatan, atau belum terbukti. Iman itu adakalanya memilih untuk tetap percaya, walau tidak ada alasan untuk percaya. Iman justru bertumbuh dalam situasi yang menurut logika manusia sepertinya meragukan. Keraguan adalah bagian yang wajar dalam perjalanan iman, karena iman artinya mengambil 1 langkah lebih jauh melampaui hal-hal yang meragukan itu. Seorang Petrus pun pernah tenggelam ketika berjalan di atas air bersama Yesus, karena keyakinannya goyah di tengah jalan. Bahkan ketakutan Petrus sekali pun, yang membuatnya menyangkal Yesus, tidak menghalangi perjalanannya bersama Tuhan hingga ia menjadi pemimpin jemaat mula-mula.

Iman yang tidak pernah melalui keraguan justru berbahaya, karena ia tidak siap menghadapi¬†perubahan yang bisa menggoyahkan¬†pilar-pilar keyakinan manusia yang terbatas. Ia tidak menyadari kerentanannya di ambang batas rasa aman yang dijanjikan ‘dunia’ (jaminan finansial, kebersamaan keluarga, kesehatan, atau apa pun itu). Bisa jadi, ia bahkan belum mengenal kasih karunia yang sesungguhnya. Berteguh di dalam iman bukan hal yang mudah. Bahkan berisiko. Sebuah contoh¬†sederhana, bagaimanakah kita dapat mengimani mukjizat kesembuhan,¬†sementara Alkitab sendiri, di satu bagian mengungkapkan bahwa tidak semua orang disembuhkan, sambil di bagian lain mengatakan bahwa ‘.. Yesus menyembuhkan mereka semuanya‘? Dari peristiwa mukjizat kesembuhan¬†di dekat kolam Betesda, kita dapat mengetahui bahwa di tengah-tengah sejumlah besar orang sakit, hanya 1 orang yang mendapat perhatian Yesus hingga¬†mengalami kesembuhan ilahi (Yohanes 5:1-9). Situasi ini¬†berbeda dengan ketika Yesus menyembuhkan semua orang lumpuh, timpang, buta, bisu, dan banyak lagi yang lain yang dibawa kepadaNya di bukit dekat pantai danau Galilea (Matius 15:29-30). Jadi, bagaimana kita harus berdoa? Dengan berharap-harap cemas apakah kita termasuk kategori yang ‘mungkin tidak disembuhkan’ atau kategori ‘mereka semuanya’? Apakah dengan keyakinan penuh, tetapi juga sadar bahwa semakin kita mengharapkan sesuatu, semakin besar risiko kita mengalami kekecewaan jika harapan kita tidak dipenuhi? Bukankah itu sebuah paradoks?

Dalam perjalanan hidup saya, tidak ada yang lebih membebani perasaan¬†daripada melihat orang tua yang sangat saya kasihi terbaring sakit dan menderita hingga akhir hidupnya. Ketiga orang tua saya (termasuk ibu¬†angkat) kesemuanya adalah orang percaya, dan sepanjang hidup mereka telah memperlihatkan integritas orang percaya yang hidupnya selaras dengan kebenaran. Ibu kandung saya meninggal relatif cepat setelah diharuskan menjalani cuci darah. Ayah saya bertahan lebih lama dengan kondisi gagal ginjal dan menjalani cuci darah seperti halnya ibu kandung saya. Namun, tidak seperti ibu kandung saya yang cepat melemah secara fisik dan mental, iman ayah saya terus menyala-nyala, bahkan sementara kondisinya menurun, beliau tetap mengimani kesembuhan dari Tuhan. Suatu hari beliau menyatakan impiannya kembali mengemudikan mobil jika Tuhan menyembuhkan beliau. Demikian pula halnya dengan ibu¬†angkat¬†saya, yang dengan gigih melawan kanker dengan mengimani firman: ‘..¬†Masa hidup kami 70 tahun dan jika kami kuat, 80 tahun..’

Tidak ada yang lebih memedihkan hati¬†daripada melihat ibu kandung saya menderita dengan kondisi tubuh yang kurus, lemah, berbicara menceracau karena kadar¬†ureum yang tinggi, dengan luka menyerupai kawah di bagian bawah punggungnya karena terlalu lama berbaring. Dan akhirnya melihat tubuhnya didorong di atas brankar dengan cairan warna coklat mengalir di selang yang keluar dari tubuhnya yang tidak bernyawa lagi. Tidak ada yang lebih mengusik tanda tanya tentang iman, daripada ironi iman akan kesembuhan yang dijawab dengan kematian, seperti terjadi pada ayah saya setelah terbaring koma beberapa hari. Tidak ada yang lebih menyesakkan dada dibanding¬†ketika saya menggenggam tangan ibu¬†angkat yang menahan rasa sakit yang hebat waktu¬†suster membersihkan luka yang disebabkan¬†kanker. Ibu¬†yang begitu setia melayani, ibu yang tidak henti-hentinya mengatakan, ‘Tuhan Yesus baik’ hingga hari-hari terakhir hidupnya. Ibu yang mengimani umurnya akan mencapai 70-80 tahun. Tidak ada yang meninggalkan rasa hampa yang janggal dan nyaris tak dikenali selain ketika saya melihat tubuhnya terbujur kaku di usia 64 tahun, sebelum suster memindahkannya dari tempat tidur ruang rawat inap untuk dimandikan.

Pagi itu, hampir 8 tahun yang lalu, otak saya berputar, berusaha memproses apa yang telah terjadi. Apakah arti dari semua ini? Bagaimana mungkin suatu Figur yang katanya baik itu, membiarkan seseorang yang mengasihiNya mengalami penderitaan yang sedemikian? Apa artinya iman dan percaya? Saya tidak mengerti. Sepertinya, saya bahkan tidak memercayai Tuhan lagi saat itu. Tidak setetes air mata pun tumpah pagi itu. Tidak banyak kata-kata yang saya ungkapkan. Realita di hadapan saya sudah sangat jelas. Sejelas akhir penderitaan ibu sekaligus kehidupannya di dunia. Akhir yang sudah dapat ditebak. Namun, di dalam hati, saya terus bertanya jawab. Saat itu saya belum lahir baru dan hanya bisa mereka-reka dengan logika saya sendiri. Saya berdiri terpekur menatap dua orang suster yang bekerja memindahkan jasad ibu angkat saya dan membereskan tempat tidur. Saya hanya terdiam dengan rasa kebas yang aneh. Namun entah bagaimana, perlahan-lahan saya mulai menemukan jawaban. Jawaban yang cukup melegakan. Bukan karena ia membawa pencerahan, tetapi setidaknya itu jawaban sederhana yang paling masuk akal. Baiklah. Pikir saya. Kalau beliau (ibu angkat saya) memang harus menderita kanker hingga menemui ajalnya, adalah lebih baik beliau melalui hari-hari terakhirnya dengan hati yang terhibur dan berpengharapan, dengan keyakinan akan kebaikan Tuhan yang beliau imani, daripada beliau harus menghabiskan hari-hari terakhirnya dengan amarah, frustrasi, penderitaan fisik yang hebat dan rasa tidak terima, dipenuhi kesesakan dan kesengsaraan batin. Saya membayangkan betapa buruknya alternatif yang kedua itu! At least, this is a better way to leave this perishable world, despite all her pain and illness. She passed away peacefully. Dengan segala paradoks dan keanehannya, adakalanya iman justru jawaban yang paling masuk akal.

***

Hari-hari ini saya tengah mengalami rasa gundah¬†yang familiar tetapi sulit saya ungkapkan. Saya amat bahagia, dan saya mengalami banyak berkat yang membuat hidup saya¬†menyenangkan. Bahkan bulan-bulan ini adalah bulan-bulan paling bahagia dalam seumur hidup saya, setidaknya mungkin semenjak kepergian ibu kandung saya, yang diikuti masa tempaan dan pergumulan yang panjang. Untuk beberapa waktu, saya bisa mencicipi kelegaan dan ketenangan. Dan saya sadar, betapa jauhnya Tuhan telah bekerja memulihkan saya. Namun, di sisi lain, ada sebuah rongga yang membuat saya merasa tidak pernah utuh. Dan saya letih berjalan dengan ‘ketimpangan’ itu. Saya letih bernegosiasi antara harapan, kenyataan, dan tarik-ulur di antara keduanya. Saya letih berpegang pada apa yang tidak kelihatan. Saya tahu saya harus membangun jembatan iman untuk meloncat ke tanah perjanjian, dan saya harus terus melangkah di atas sungai ketidakpastian yang mengalir di bawahnya. Di tengah perjalanan, jembatan itu seakan¬†bergoyang-goyang, dan semakin saya berusaha meyakinkan diri akan bilah-bilah kokoh yang tengah saya tapaki, semakin bilah-bilah itu terlihat rapuh dan tidak meyakinkan. Akan tetapi, keindahan kota baru di seberang sana terus memanggil. Dan entah bagaimana, saya merasa genggaman tanganNya kian erat dan hangat. ‘Jangan takut, anakKu, Aku akan menggandeng tanganmu erat-erat sampai di seberang.’